Langsung ke konten utama

Rezim Suharto Bantai Ratusan Ulama

(Foto: istimewa)


Ini yang terjadi pada tanggal 12 September 1984 yang silam. Peristiwa saat itu dikenal sebagai peristiwa pembantaian Tanjung Priok yang menewaskan kurang lebih 400 massa umat Islam dan para Ulama, Ustadz dan Habaib melalui moncong senjata militer Orba saat itu.
Para Ulama, Ustads, dan Habaib dan ratusan umat Islam tewas bergelimpangan meregang nyawa dengan mata melotot dan mulut menganga diterjang timah panas dari senapan otomatis tentara Orde Baru.
Pertumpahan darah tersebut berawal dari Abdul Qadir Djaelani, seorang Ulama garis keras sekaligus tokoh masyarakat di Tanjung Priok, Jakarta Utara. Abdul Qadir Djaelani ini juga adalah Ketua Umum Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) saat itu.
Abdul Qadir Djaelani adalah Ulama garis keras yang kerap menyampaikan ceramah yang dituding pemerintah Orde Baru menolak Pancasila, provokatif dan berpotensi mengancam stabilitas nasional. Dari situlah kejadian berdarah itu bermula.
Abdul Qadir Djaelani dan beberapa Ulama lainnya ditangkap karena dituding melakukan tindak pidana subversi berupa provokasi dan hasutan.
Mereka dituding menghasut umat Islam melalui ceramah dan khotbah mereka yang menolak penerapan asas tunggal Pancasila, serta kesenjangan sosial antara pribumi dengan non-pribumi.
Akibatnya umat Islam saat itu marah besar dan menuntut agar Abdul Qadir Djaelani dan beberapa Ulama lainnya yang ditangkap aparat keamanan segera dibebaskan tanpa syarat.
Permohonan pembebasan para Ulama yang ditahan oleh pemerintah Orba tidak digubris sama sekali oleh pemerintah saat itu.
Maka pada tanggal 12 September 1984, sekitar 1.500 umat Islam bergerak menuju Polres Tanjung Priok, yang lainnya ke arah Kodim yang berjarak tidak terlalu jauh, hanya sekira 200 meter.
Ribuan massa Umat Islam dihadang pasukan militer dengan persenjataan lengkap, termasuk alat-alat berat perang lainnya seperti panser dan tank-tank militer.
Para demonstran berhadapan langsung dengan pasukan tentara yang siap tempur. Mereka meneriakkan takbir dan Asma Allah sambil terus merengsek maju ke arah pagar betis pasukan militer yang menghadang mereka.
Tanpa disadari oleh para demonstran, mereka telah dikepung dari segala penjuru oleh pasukan militer. Para pasukan militer membentak mereka agar mundur, namun disambut oleh para Demonstran dengan teriakan takbir dan pekik asma Allah yang bersahut-sahutan.
Tiba-tiba militer mundur dua langkah, lalu terdengarlah suara rentetan tembakan yang memekakkan telinga di tengah kerumunan banyak orang saat itu.
Rentetan tembakan tersebut diikuti oleh pasukan militer lainnya yang langsung memuntahkan peluru secara sporadis dari moncong senjata mereka ke arah ribuan umat Islam yang merengsek maju sambil meneriakan takbir dan Asma Allah saat itu.
Ribuan umat Islam pun langsung lari tunggang langgang dan tumbang bergelimpangan dihajar tembakan di punggung, lalu tersungkur berlumuran darah dan tewas dengan mata melotot dan mulut menganga.
Dalam sekejap jalanan dipenuhi dengan mayat manusia yang tewas bersimbah darah. Ribuan orang lainnya panik dan berlarian di tengah berondongan hujan peluru.
Sebagian lainnya tiarap sambil menutup kedua telinga mereka. Sebagian lainnya lari sembunyi di got-got dan selokan-selokan di sisi jalan dengan wajah pucat pasi.
Mereka yang ketakutan lari lintang pukang menyelamatkan diri dihajar berondongan senjata tanpa ampun dan belas kasihan.
Suasana saat itu sangat mencekam layaknya di tengah medan perang. Pasukan militer terus memberondong peluru tiada henti ke arah ribuan massa yang kocar kacir dengan membabi-buta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nilai Rupiah Terhadap Dollar

Currency against US Dollar, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Venezuela: -2,000,000% Sudan: -168% Turkey: -67% Argentina: -65% Angola: -57% Iran: -30% Brazil: -21% Ethiopia: -18% Pakistan: -17% Russia: -13% Sweden: -12% Tunisia: -11% Nicaragua: -8% Indonesia: -8% Myanmar: -8% Haiti: -8% India: -7.4% Yang bilang Rupiah hancur adalah mereka yang pura2 bodoh atau bodoh beneran. Semua data bisa di cari di Internet. Kalau pendapat saya sih pura2 bodoh dalam rangka membodohi masyarakat awam #2109jokowitetappresiden #bersihmerakyatkerjanyata #indonesiasiapbersaingdileveldunia #kotabekasikeren #mustikajayakeren #cimuningkeren #pedurenankeren #mustikasarikeren #bantargebangkeren #ciketingudikkeren #cikiwulkeren #sumurbatukeren #rawalumbukeren #bojongmentengkeren #bojongrawalumbukeren #sepanjangjayakeren #pengasinankeren #nasdemantimahar #nasdempeloporgerakanperubahan #politiktanpamahar #nasdemustikabara #firmanasdemustika #firmanasdemawero Salam Re...

NASDEM : Politik Tanpa Mahar

Partai NasDem membulatkan tekad politik tanpa mahar. Ketua Umum NasDem Surya Paloh mengungkap, NasDem sejatinya bisa meraup pemasukan besar sejak mengikuti pilkada beberapa waktu terakhir jika menerapkan mahar politik.  "Tiga kali pilkada (yang diikuti) potensi pemasukan keuanganya itu perlu saudara-saudara ketahui, tidak kurang dari Rp1 triliun," kata Surya Paloh dalam konsolidasi kader NasDem se-Jawa Barat di Bandung, Jabar, Minggu 4 Maret 2018. Kalau mau, kata Surya, NasDem bisa saja tak menolak duit itu. Apalagi, ongkos sebagai partai politik, tidak sedikit. "Rp1 triliun ditolak oleh partai ini? Partai baru ini? Mungkin kalau kita sumbangkan untuk paslon Jabar ini, pasti menang ini," ujarnya. Surya Paloh juga mengungkapkan, ketika Pemilu 2014, NasDem menolak uang Rp57 miliar uang kebutuhan saksi yang disiapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dana yang disiapkan KPU dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) itu sejatinya untuk membiayai keperluan s...